GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM — Gaza makin sekarat. Krisis kemanusiaan di wilayah yang terkepung itu kini mencapai titik nadir, dengan melonjaknya kasus malnutrisi yang bikin dunia makin terpukul.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengirim sinyal bahaya: “Anak-anak Gaza sedang kelaparan… dan dunia hanya menonton.”
Baca Juga: Setiap Detik Ada yang Mati di Gaza — 58.000+ Korban Jiwa!
Baca Juga: Handala Berlayar! Freedom Flotilla Kirim Misi Harapan Menuju Gaza
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu (13/7/2025), UNRWA menyebut salah satu klinik mereka di Gaza mencatat lonjakan gila-gilaan kasus malnutrisi sejak Maret lalu.
Kenapa? Karena sejak saat itu, Israel makin memperketat pengepungan dan memblokir masuknya bantuan kemanusiaan.
“UNRWA tidak lagi diizinkan mengirim bantuan kemanusiaan sejak saat itu,” tulis mereka, dikutip kantor berita Anadolu.
Meski kekurangan stok medis dan gizi, tim UNRWA tetap turun ke medan. Mereka terus memeriksa kondisi gizi anak-anak yang makin hari makin lemah. Ya, mereka tetap berdiri, bahkan ketika harapan mulai runtuh.
Baca Juga: Jeritan Sunyi Anak Gaza, Ribuan Tersungkur karena Lapar, Dunia Masih Membisu
Baca Juga: Perang Gaza Tanpa Arah, Hamas Masih Berdiri, Israel Terjebak Dilema Politik
Dari data otoritas Palestina, setidaknya 67 anak di Gaza telah meninggal dunia karena kelaparan sejak Oktober 2023. Dan angka ini terus bertambah. Sistem layanan kesehatan benar-benar kolaps. Akses ditutup. Perbatasan dibekukan. Rumah sakit diserang.
“Pasokan bahan bakar di Gaza sudah sampai titik kritis,” lanjut UNRWA bersama badan-badan PBB lainnya.
Tanpa bahan bakar, rumah sakit tak bisa menyala. Air bersih tak mengalir. Toilet tak berfungsi. Ambulans tak bergerak. Dan bantuan? Mati total.
“Artinya, tidak ada layanan kesehatan, tidak ada akses air bersih, dan tidak ada kapasitas untuk menyalurkan bantuan,” tegas UNRWA.
Baca Juga: Anak-anak Gaza Mati Kelaparan dan Bom, Dunia Masih Diam
Mereka mendesak dunia: bukalah jalur bahan bakar sekarang juga. Kirim pasokan dalam jumlah yang cukup dan konsisten, sebelum semuanya terlambat. Karena di Gaza, setiap detik bisa jadi soal hidup atau mati.
Konflik di Gaza masih membara sejak serangan besar-besaran Israel dimulai 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, lebih dari 58.000 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Infrastruktur luluh lantak. Wabah penyakit mengintai. Dan bom terus jatuh tanpa ampun.
Di tengah kepungan ini, dunia menuntut keadilan. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) akhirnya bertindak: mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Baca Juga: Khamenei Kecam Israel: Genosida Murahan Terjadi di Gaza
Baca Juga: 74 Warga Palestina Tewas, Israel Serang Pusat Medis di Gaza
Tapi hingga kini, penderitaan belum berhenti. Gaza masih terluka. Dan anak-anak di sana masih menunggu: apakah dunia akan datang… atau terus diam?. ***

